Langsung ke isi
AAHM LEGAL RESEARCHHUKUM · SUMBER · PENELUSURAN
Menu ☰

← Peraturan / Ruang baca

NASKAH LENGKAP · TERSIMPAN DI AHM

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Pemerintah Republik Indonesia

Teks ekstraksi PDF resmi. Seluruh bagian dokumen yang tersedia pada halaman sumber disertakan; cocokkan kutipan dengan PDF. Bukan naskah konsolidasi.

Catatan sumber ↗
Unduh PDF sumber
Lompat ke bagian · 5 bagian
  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5

Bagian 1 dari 5

                                    -ffi
                                    PHt 5IDT.'N
                               HET]UfILIK INDOI-,]TtIA



                    UNDANG-UNEANG REPUBLIK INDCINESIA
                             NOMOR 5 TAHUN 1999
                                       TENTANG
            LARANGAN PRAI{TEK MONOPOLI DAN PERSAINOAN

                               USAHA TIDAK SEHAT



               DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA



                       PRESIDEN REPUBLIK INDONESTA,



Mcnimbang     a.     brhwa gwmbnngunan bidang ekonomi haru* diarahkn krp*da
                     terrrujurlnyn kesejahteraan rakyat trerdasarknn Panca*ila dan
                     Undong-Undnng Dasar I 945;

              b.     hahwa dernokrasi dalcm bidang ekonomi menghendnki adunya
                     kesnmpatnn ymg sam,r hagi setiap wergfl nefisra untuk
                     bcrpnrtisipasi di dalsnr prose$ produksi dan lrcmnsflren harang
                     dan attu jnrn, dalam iklim usaha yang sehat. efektif, dan efisien
                     sehingga daprt mendCIrong pertumbuhan ekonomi dan bekerjanya

                     ekonomi paser yang wajar;

               C.    hahwa setiap orang yang berusaha di Indoncsin haruc bernda
                     dalam eitunsi p*rsaingan yang sehat dan waj*r, sehingga tidak
                     menimhcllc*n *dnny* pernusatan kekuntan ekonami pada peleku
                     usah* tertentun dengan tidak tsrlepas dari kescpukatan yang tcloh
                     dileksanekan oleh negara Republik Indonesia terhndap perjanjian-
                     perjanjinn i nternasional ;


                                                                        d. bahwa
                                    W FrFtt.5lnr. N
                              RIi PUt3r, lK lNflLf F}L SIA
                                              't
                                              t-



               d. bahwa untuk n*wujutlkan scbagaimana yang dirnaksud dalnrn
                  huruf n. hunrf h, dan huruf c. atfls usul inisintif Dcwan
                  Perwakillrn Rakyat prlu disusun Undang-LIndang Tcnt*ng
                    Larungan Frakts.k Monopoli tlnn Persaingan Usaha Tidxk Schal;



Mengingat      Pnsal 5 Ayat (l), Pasal 2l Ayat (l), Fasnl I? Ayat (2), dan Passl 33

               Undang-Undang Dasar 1945;



                                   Dengan pcrsctuiu*n


            DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA


                                   IvIEMUTUSKAN:

Menetapkan     UNDANG-UNDANfi TENTANC LARANGAN PRAKTEK
               TvIONOPCILI DAN PHRSAINOAN USAHA TIDAK SEHAT.




                                          BAB I
                                KETENTUAN UMUM


                                          Pasal I

               Dalaln undang-undang ini yang rlinraksutl clcngan:

               l.   Monopoli ndalah pcnguilsilan filas prcxluksi dan atstr pctnflsarfln
                    barang d*n atu atali Fsnggunflfln jasa tcrtcntu oleh satu pclaku
                    usaha atft[r $ittu keloltrllok pelakrr rrsalra,



                                                                        2, Praktek...
                   ff"#
                    F}H i SIDf N
             HI. trrJBr^th; tNn.i)Ftt at A

                            3



z. Praktuk rnunopoli adalah pcrnusatnrr kukuafan ekononri eilch satu
    ntau lcbih pelaku usaha yans nrcngakibntkan diku*sainya
    produk*i tlnn atau pemflsaran atas barang dan atau jasn tertentu
    sehingga nrcnilrrtrulkan prrsaingarn usalra tidak schat dan dapat
    nrerugikan kupentingan untunt.

3" Pemusatan kekuntan elcononri atlalah p*n1[uas&an yang nyata al.ns
    suatu pflsar bersangkutan olnh satu atau lebih pelaku usaha
    sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa.

4. Fosisi dominan adalah kcatla*rr {,i nlnnfl pelaku usuhn tidak
    rnempunyai pesaing yang b*rarti di pasar trcrcangkutan dalam
    kaitan rlengan pfingsa pnsflr yarrg dikuasai, aluu pclaku u*aha
    rrrempunyai posisi tcrringgi di antarfl pcsaingnya di pflsar
    bersangkutan tlalalrr kaitan dcngan ke malnpuan kr:uarrgan,
    ken'rampuan akscs pada pasokan at{ru pcnjualari, serta
    kemanrpuan untuk rrrenyesuaikan pssokan atau pcrmintaan
    barang atau jara lfrtenlu.

5. Pelaku usaha adnlah setiap ortrns perorangfln atau badan usaha,
    baik yang berbentuk badnn lrukuru atau bukan badan hukum yang
    didirikan dan berkedurlukan arau rnclnkukan kegiatan dalsm
    wilayah hukrnn negara Reprrhlik lnclone*ia, trnik scnsliri maupun
    bersarna-sama rnelalui pcrjanjian, nrenyelcnggarakan b*rhagni

    kegiatan usaha dnlam bitlang ckononri.

6. Persaingnlr usalrir tidak sehat adatah persaingan anrarpclaku us*ha
    dalam nrenjalankan kcgiatan produksi dan atau Fcln&saran bar*ng
    dsn atau jase yans dilakukarr dengan c*ra tidak jujur atau
    melawan hukum alau nlenghambal pcrsaingan usaha.


                                                    7. Pedanjian ...
                          ffi '.. ' {. I'r
             ,l   '"t'l   l       r,. ' , ',J i' j ,' r',




                                  4

7. Pcrjanjinn &dalah suatu perhurtan satu fltilu lebih pelahu ustha
    untuk mcngikatknn diri terhadap sfltu etsu lebih pelaku urahn lain
    dengan nama ap& prnr bnik tertulis maupun tidak tsrtulis.

8. Persekongkolan etau koilspirasi usaha ndalah bentuk kerjrsamn
    ynng dilakukan olch pelaku useha dengan pelaku ustha lain
    dengan maksud untuk menguasei paser bcrsangkutan bagi
    kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol.

9. Fassr ndclah lembagn ekonomi di mana pars pembeli dan pcnjual
    hnik secnra langsung maupun tidak langsung dap*t meltkukan
    transaksi perdagangan brrang dnn atau jasa,

10. Pasnr hersangkukn adalsh pflsflr yang brrkaitan dengan
   jnngkauan nta* dnprah pemasaran lerteulu olch pelaku usahn atas

    barang dan atau jasa yang $&m& fltsu sejenis atnu substitusi dari
    hrrang dan atau jasa tersebut.

I 1. Struktur pnsf,r adnlah keadaan pa$ar y&ng melnberikan petunjuk

    tentrtrg aspek-aspck ynng memiliki pengaruh perrting terhadap
    pcrilaku pelnku usaha dan kinerja pasflr, &ntore lain junilah
    penjual dan pemhcli, hambatan masuk dan ksluar pa$sr,
    keragnman produk, sistem distribusi, dnn pnguas&fln pflngsa
    pnssr.

12. Perilnk$ Fnss.r ndolnh tindsknn yang dilakuk$n alch pclakrr ttsnha
    dalam kapasitasnys sebagei pernasok ntau penrbeli bnrang dun
    atnu jrsu untuh mencapai tujuan peru*ahaan, antsrs lain
    pencapaian kba, pcrturnbuhan flset, targst penjualan, dan mettxl*
    persaingnn yang digunakan.



                                                            13" Pangsa .."
                              y



                         5



13. Pangsu p:l$ar ndalnh persentase nilai jual atau beli harnng atau
   jasa tcrtcntu yang rlikuasai olch petaku usaha pudn p{l$*r
    bersangkutrn dalam tahun kalendsr tsrtentu.

14. Hargn pfl$ar ndalah hnrga ynng ditrayar dalam transaksi burang
    tlan rtau jasn eesuai k*sepakatnn antara para pihak tli pusar
    hersangkutan.

15. Konsumen adal&h setinp pemakai dan stnu penggunf, barang dan
    atau jasa baik untuk kepcntingan diri sendiri maupun unluk
    kepentingan pihak lain,

16. Barang adalah setiap benda, baik herwujud maupun tidak
   berwujud- baik bergernk maupun tidnk hergerak, yang dapat
   diperdryangkan, dipakai, dipergunakan, at&u dimanfnatkrn oleh
   konsumen #au pclaku usaha"

17. Jasa adalah setiap layanrn yang bcrbentuk pekerjaan etnu prcstasi
   yang diperdagangkan dalam mruyarakat untuk dimanfaatkan oleh

   konsumen ntau pelaku usnha.

I8. Kornisi Pengawar Fersaingan Usaha adalah komisi yang dibentuk
   untuk msngnwa$i pelaku uraha dalam rnenj*ltnkan kegintan
   usahanyn ilgfir tidsk melakuknn praktek monopoli dan *tau
   persaingan usaha tidak sehat.

19. Pnngadilan Negeri adnlah pengadilan, sebrgaimana dimaksud
   dalarn peraturan perundnng-undangan yang berlaku, di tcmpat
   kedudukan hukum usaha pelaku uraha.




                                                           BAB II ...
                        ffi
                    FRt- :}lDtiN
             HIf',UBL IK INDL}NE 3I.A


                            6




                       BAB II
               ASAS DAN TUJUAN


                        Fasnl ?


Pelaliu usaha cli Inr.lonesia dnlarn rncnjalankan kegiatan u$ffhanyfl
berasaskan de mokrasi ckorrorui dengatr rnemperhatikan keseimbangan

entara kepentingan pelaku uxahn dan kepentingan utnum.




                       Fasal 3


Tujuan p*rrrtrentukan undarrg-urrdarrg ini adalah untuk:

a. rnenjaga kep*utingan urnunr dan nreningkatkon efisiensi ckonami
    nasiCInal rebagai salah satu upsyil untuk rncningk*tkan
    kcsejahteraan rakyut:

b. mewujudkan iklirn usahil yang kondusif melalui pengatursn
    persairrgnn usaha yang schat sehingga rnenjamin adanya kepastian

    kesemprtan bcrusaha yang sinuil bagi pclaku usaha besar, pelaku

    usaha m*nengah, dan pclaku usaha kecil;

c. mencegah prnktck ntonupoli dan atau persaingln usaha tidak
    rehat yang ditinrbulkan uleh pelaku usaha; dan

d. terciptanya ef*ktivitas dnn efisiensi dnlanr kcgiatau usaha.




                                                            BAB ITI ,
                  ffi}
                     r]FIL':iINfFJ
            tir". frLruL"f }1 rNr)()Nf; 1]ll\

                              7


                         BAB III
        PBRJANJIAN YANG DILARANG

                    Bagirn Pertama

                        0ligopoli

                          Pasal 4

(l) Petaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan polaku usaha
   lain untuk $ecara bersama-canra rrrelakukan pengunsaan produksi
   dnn fltflu pemasrrfln buang dan atau jasa yflng dapnt
    mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan

   usaha tidak sehst.

(2i Felaku usaha pfltut didugfl atflu dianggap sccara bcrsamn*snmn
   melakukan penguffiaan proeluksi dnn atau pema$arfiIl htrang dan
    atau j*sa, sebagaimana dimaksud ayat (l), apabila 2 tdua) atau 3

    (tiga) pelaku usaha rtau kelompok pelaku usaht rnenguasai lebih
   dsri ?5 % (tujuh puluh lima persen) pangsa paser satu jenis
   barang atau jasa tertentu,



                     Baginn Kedua
                   Penetapan Harga



                          Paral 5

(l) Pelaku usaha dilarang ntembuat perjanjian dengan grel*u usaha
    pesaingnyn untuk menetapkan harga atas suatu hnrang dan atau
   jusa yang hnru* dihnyar oleh konsumen atau pclanggan pada
    pflsar bcrrnngkutan yang sama.


                                                   (2) Ketentuan ..
                                     Itr
                                     !'4
                     F

                         *

                   Frttt rlllt-N
              hLPUTILII1' IhIDT}NE 5IA

                               I
(2) Kctenluan schagaimanr dimaksud dalnrn ftyat tl) tid*k br'rlaku
     bagi:

     fl. $uatu perjnnjian yang dibuat dalanr $uatu usflha pe(ungaq atau
     b. suatu perjanjian yang didasarkan undaug-undnng ynng
        berlaku.



                         Pasal 6


Pelakrr urahn tlilarnng membuat nerianiinn yflng nrcngakibntkan
pembeli yang satu harus menrbayar dengnn hargu yang bertreda dari
huga yang harus dibtynr oleh pembeli lain untuk trnrang *lan ntau
jasa yong sflrnfl.



                             Fssal 7


Pelaku ucahn dilarang nrembuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnyn untuk menetapkan harga di bawah hargn pasflr, ynng
dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usnha tidak sehat.



                             Pnsal   I
Pclaku useh$ dilarang membuat perjanjian dengan plnku usuht lain
yang memuet porsyaratan bahwa penerimn bsrang dan ntau jusa tidak
akan menjurrl atnu memssok kernbali barang clan atau jasa yang
diterimanya, dengan hnrga yang lebih rendah daripada hlrga yang
telsh diprjanjiknn schingg* dapat urengakib*then terjadiny*
perr*ingan usflha tidrk sehat.




                                                             Bagian
                         nr,..
                        A




                      FHt c:IDU N
               Rf l'LJFll-lR INDr)Nl,]:rlA


                                   I
                         Bagian Ketiga
                    Pcnrhagian Vilayah



                                 Fasal 9

Pclaku usHtu dilarang m*rlbuat trrcriaujian tlcngan pelaku uselu
pesaingnya yang bsr{ujuen untuk tnemhagi wilayah per}tflsaran ateu

alokasi pasar terhadap harnng dan atau jasa schingga dapm
nrengakibatkan terjadinya praktek tnonopoli dan flt&u persaingen
usaha tidak sehat.


                        Bagian Kccnrpal.

                            Penrboikrtan



                              Pasal ltl

(l) Pelaku usaha dilarang menrtruat perjanjian, dengan pclaku usaha
    pesaingnyar yang dapat nrcnghalangi pelaku usaha lain untuk

    melakukan usahn y&ng liiltila, haik untuk tujuan pasar dalam
    negeri maupun pssflr luar nrg*ri.

p) Pelaku usaha dilarang mcnrbuat perjanjian dengan pclaku usflha
    pesaingnya, untuk menolak nrcnjual $etirp harang dan ntau jasn
    dari pelaku usaha lain sehinggit pcrbuatafl tersebut:
    a. nrerugikrn atau dapflt diduga akan merugikan pelaku useha
        lilin; ;rtiur
    b. nternbntasi pcluku usaha lain dalam nrenjual atau tmcrnbcli
        seliap barang dalr atau jasa dari pas$r hersangkutan.




                                                                Bagian
                    W  ['H[ (:ll ]l N
             RII t'LJLlt.^lK llrll'l()fi[':l/-


                            - l(l -

                      fiagian Kelirna
                             Kartel


                           Fasal I I


Pelaku usah& dilarang nrenrhuat pcrjanjian. dcngan pelaku usaha
pesaingnya, ysng bcrrnaksud untuk urcnrpengaruhi harga dengan
mengatur produksi dnn atau pr:nlssararr suatu barang dan fltau jess,
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek rnonopoli dan atau
persaingan usnha titlak s*hnt,




                      Bagian Ker:rrarrr

                             Trust


                           Ptsal I2

Felaku usahn dilarang nternbuat pcrjanjian dengan pelaku usaha lain

untuk melakukan kerja sanlfi, rlengan mcmbentuk gabungan
perusahaan atau perseroan yailg lclrih hcsar, dengan tetap menjega
dan menrpertahankarr kclangsungan hidult masing-masing pcrusahaan
atau Ferseroen ulggotanya. yang hertujuan untuk mengonlrol
produkri dan atau lxnrasflran atas barartg dan atau jasa, schirrgga
dapat nrengakibatkan ter.iadinya praktck rnon*poli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.




                                                           Bagian ..
                      rlF.tr,:)l[]Lp{
                RF rlrJf3Llll rNDrlN[-3tA


                           - lt
                      Bagian Kctujuh

                        CIligop*oni

                          Pssal 13

(l) Pelaku u$sha dilarang membuat pcrjanjian dengan pelaku usrrhe
    lain ysng hcrtujunn untuk sccarfl bersama-sama meuguasai
    pembelian atau penerimaan pasokan agfir dapat mengendalikan
    hnrga atns barang dan atnu jnsa dalam pfl$ilr bcrsangkutan, yang
    dnpat mengahibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
    persaingar usaha tidak sehat.

(?) Pelaku u*aha patut diduga ntsu dianggap $ecflra bsrunrna-sama
    rncnguasai pembelian atau penerimaan pasokan scbagnimnna
    dimakxud dalom nynt (l) apabila 2 (dua) atau 3 (tigs) pelaku
    usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lehih dari ?5%

    {tujuh puluh Iima persen) pnngsa pnser rntu jenis harang ntau jasa
    tertcntu.

                    Bagian Kedclapan
                     Integrasi Vertikal

                          Pasal 14

Pelaku usnha dilarang membunt perjanjian dengan pl*u usflha lain
yang bertujuan untuk mengua*ai pruluksi sejumlah pruluk yang
(ermasuk dalam rangkaian produksi barang dan a{nu jasn tertentu

yang mane xeti*p rangkaian produksi merupakan hnril pe*golnhan

Bagian 2 dari 5

atau proses lanjutan, haik dalam satu rangkaian langsung maupun
tidak langsung, yang dapat rnengakibatkan terjadinys persaingun
usaha tidak sehnt dan atau merugiknn nrasyarakat.



                                                            Bagian
                                    \
                    EI
                         \

                    pH t.5lf1f. N
             RL PU[.tLl l( rNt-]Ul',lt* 1]iA



                             -12-

                 Sagiun Kesenrtrilan

                 Ftlrjanjian Tertutup


                             Pasal l5

(l) Pelaku usaha dilarang nrcrnbual perj*njinn dengan pelaku usahe
    lain yang mcmuat per$ynratnn halrwa pihuk yang menerima
    barang dan atau ja*a hnnya Rkarr lnclnarok atau tidak rnemasnk
    kcrnbali barang dan atau jasa ter*r;trut kepada pihak tertentu dan
    atau pada tf,mpat tertcntu.

(2) Pelaku usahn dilarang memtruat prrjanjian dcngan pihak lain
    yeIIB nlsmuat persyaratan bahwa pihak yang nrenerima barang
    dan atau jarn tcrtcntu harus bersedia nremheli barang rlan atnu
   jasa ltin dari pclaku usnha lrernasok.

(3) Pelaku usaha dilarang lnenrtruirt perjanjian mengenai harga atau
    potongan harga tertcnlu fita$ b&rflng dan atnu jflsa, yang nremuat

    persyeratan bahwa pelaku usaha yilng tncnerima barang dan atau
   jaea dnri pelaktr usrha pcrmasok:

    a. harus bersedia mcnrbcli barang dan ntau jasa lnin dari pelaku
       usnha penrasok; atau

    b. tidak akan mcnrheli barang dan atau jasn yolrg snma alru
       scjenis clari pelakrr usaha lain yang mcnjadi pesaing dari
       pclaku usahu perrtasok.




                                                            Bagian
                  ffi
                    P.rl t- r,l1) t_ N
             til.t)r,t-J[.rR tND(]Nf 5t/r


                         -t3-
                  Bngian l{esepuluh
       Perjanji*n Dengan Pihak Luar Negeri

                        Fasnl 16

Pelaku usaftfl dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain di lunr
negeri yang men)uat ketentuan ysng dapat nrengakibrtkan tcrjadinya
prnktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.


                        BAB IV
         KEGIATAN YANO DILARANG

                   Bagian Pcrtnma

                       Moneipoli

                        Fnsd l?
(l) Fclnku usaha dilarang melakukan penguasfferi *tas produk*i dan
    fitsu pemnsaran bamng dan atau jasa yang dapat mcngfikibatkan
    terjadinya prnktek monopoli dan atau persaingan u*ahn tidak
    sshst.

(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasnan
   alfls produksi dan atau pemasaran bnrang dan atffu jasa
   sebngaimnna dimaksud dalam ayat (l) apabila:
   a. barnng dan atau jasa yang hersangkutan belum nds
       sub*titusinya; atnu
    b. rnengnkibatkan pelaku usaha lain tidak dnpat masuk ke daltm
       per*tringan usaha bnrang dnn atau jasa yang sanla; filau

   c., satu pclaku usahn atail $atu kelompok plaku usahn menguusai
       lsbih dari 50S (lirna puluh persen) pangsa paser satu jenis
       barang atau jasn tertentu.


                                                            Bagiau
                   ffi
                     [,1.]r5]t)l_N
             r{t r.ruiJL il.{ tND(JNf illt


                         -t4-
                     Bagian Ksdua
                      Monopsoni


                        Pasal 18

(l) Pelaku u$rhe dilarnng menguasai pcncrimflfln p&soknrt fiteu
    rnenjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dnlarn pfl$ar
    bersrngkutan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek
    mnnopoli dan atau persaingan rrsaha tidak sehat,

(2) Pelaku usahe patut diduga ntau dianggap mengun$ai penerirn*an
    pa$oken atau menjadi pernhcli tunggal sehagaimana dimaksurl
    tlal*m ayat (l) apabila satu pelaku usaha atsu satu kclornpok
    pelrku usflhfl menguasai lebih dari 50% (linra puluh perxen)
    Fangsn pflsar satu jenis barang atau jasa tertcntu.




                    Eagian Ketiga

                  Penguasaan Pasar



                        Pasal l9

Peloku usaha dilnrang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik
scndiri mflupun bersalna grlaku usahn lain, y$ng dapat
mengakihatkan terjadinyn praktek monopoli dan atau persaingan
u$rhs tidak sehat berupa:

a. menols,k dm atnu menghalangi pclaku usaha tertentu untuk
    melnkuknn kegiatnn usahs yang $ailra pacla pasar bersangkutan;
    atau



                                                    b. menghalangi..
                                e

                    rrHr-";lriL N
             Irf F[JBl tK lNf)()Nt-1t/r
                        -15

b. rnenghala'gi konsurnen arau peranggan pcraku usahs pcsaingnya
    untuk tidak nrelakukan lrubungan usrha dcngan plaku usaha
    pesaingmya itu; ilttu

c. mcrnbatasi pereclnran tlan atau penjuaran harang drn atau jasa
    pada pasar bersnngkutfln: fltilu

d^ melakukan praktek tiiskrirninnsi rerhaclap pelaku usaha te rtentu.

                       Pasal 3U

Pelaku usaha dilarang nrelakukarr pcrrra.sokan barang clan atau jasa
dengan cara melakukan juat nrgi alau menstapkan harga yang $fingat
rertdah dengan rnaksuil untuk nrenyingkirkun atau nrematikan usaha
pesaingnya di pa$rr bersangkutan schingga dnpot nrcngakihatkan
terjadinya praktek nronopoli dan atnu pcrsaingarr usaha tid*k sehat.


                        Pnsal 2l

Pelaku usaha dilarang nrelskukan kecurangan tlalam menetapknn
biaya produksi dan biaya hinnyn ylng rncniacli bagian dari komponen
harga barang dan atau jrrsa yang d*1lat nrengakibatkan terjadinya
persaingan usaha tidak sehat.



                   Bagian Kccnrpat

                   Persekongkr.rlalr



                        Fasal ?2

Pelaku usaha dilarnng hrrsukongkol dcngan pihak lain uutuk
mcngalur dan atau rncnuntukan p*lnlenang tender schingga dapat
mengakibatkan teriiadinya pur*aing*n usahn tidak sctrat.


                                                            Pasal 23 "..
                    W FifrrStDrN
             t'(t: trLJHL. lK lf'i {-}(JNL rrl rr

                           -16-
                          Fasnl 33

Pelaku usalm dilarang bersekongkol tlengan pihak lnin untuk
mendepirtkiln infcrrrnasi kr:giatan usaha pe$aio&nya   yilr1g

diklasilikasikan sehagai ratrasia perusnhaan sehingga           dapat
msngakibatkan tcrjrrlirry* pcrsaingan usaha tidak schat.



                          Pas-rl 24

Pelaku usaha dilarang bersckongkol tlengan pihak lain untuk
menghanlbat produksi dan atflu psmasaran harang dan atau jasa
pelaku us{rha pesaingnya derrgan maksud agar harang dan aku jasa
yong ditawarkan afau dipnsok di passr bcr.rangkutan menjadi
berkurang baik dari junrlah. kualitas, nrflupun ketepatan waktu yang
dipcrryaratkan.



                           BAB V
                  POSISI DON,IINAN


                    Bngian Pcrtarrra

                           Urtrurrr


                          Pasal t5

(l) Pelaku usflhn dilarang rncnggurrakan posisi dorninan baik s*cara
    langsung maupun tirlak langsung untuk:

    a. ntenctnpkan syarat-.ryarat perdflgflngfln deng*n tujuan untuk
       nionr;*gah dtn fltau rnenghalangi konsuln*n nrr:*ry:rrleh
       tr*r*ng dan ntau jasa yang bcrsaing. buik dari scgi hargr
       rrrflupun kunlitas; ntau



                                                     b. rnembatasi
                     *iffi
                      I-!Hr{itt1t'N
             l{1 I'U[.j1"-lK rNDCrl''lt- l,lA


                          -17

   b. memhatfl$i pasar dnrr peng*mtrangrrn teknologi; atau
   c. menghanrtrat pelaku usaha lain yang berpotrnsi rn*njadi
       pcsning untuk rncmasuki pasar bersangkutan,

(?) Pelaku usnha urenriliki posisi rlominan sebagaimana diuraksud
   ayat (l) apabila:

   ,t. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha msngua$iti
       50% (linra puluh pcrsen) alau lchih pangsa pasar tntu jenir
       harang atau jasa tertcnlu; atau
    b. dua atau tiga pclaku usnha atau kelonrpok pelaku usahn
       mengumai 75% (tujuh puluh linra persen) rtau lebih pangsa
       pfi$ffr satu jenis barung atau jn$a tcrtentu.



                      Bagian Kedua

                     Jaba(an Rangkap



                         Pasal 26

Seseorang yeng menduduki jahatan sebagai direksi atau komisnris

dari suatu perusahaan. pada waktu yang bersarnaan dilarang
merangkap menjadi dircksi atflu kornisaris pada pcrusahaan lainn
apabila perusahaan*pcrusahaan tcr$chut :

a. berada dalam pa$ar bersangkutan yang sarna; atau
b. memiliki keterkaitan yang erilt dalam bidang dan atau jenit
    usaha; atau

c, secara hersama dapat nrcnguasai pangsa pasar harang dan atau
    jasa tertentu,

yang dapat nrengakibstkan terjadinya praktek ntonopoli dan alau
persaingan usaha tidak sehat.



                                                          Bagian
                     ffit,tiF.5tDE N
             t"l t- lrUl-]Ll   K tN D()t',1f" :)l A
                               - lll -

                       Ilaginn Ketiga
                     Penrilikan Silharn


                               Paral 27

Pelaku u$flha rlilararrg rneuliliki saharn rnay$rita$ pltdfl h*berapa
perusahaan scjenis yarrg rrrelakukiur kegiatan usahq dalam bidang

yong sama pada pasar b*rsangkutarr yang satna, ntau rnendirikan
beberapa perusahran yang nrcnliliki kegiatan usaha yang *anra pada
pss&r bersangkutan ynng s&nra. apabila kepernilikan tersebut
mengakibatkun:

&. sntu pelaku usaha &tau satu kclornpok pclaku usalra msnguasai
    lchih drri Sfi% llirua puluh persen) pilngsa pnsar satu jenis
    barang atau j*srt tcrtcntu:

h. dua atflu tiga pelaku usaha atiru kelompok pelaku usahs
    menguasai lubilr d.lri 75 % (tujuh puluh linu pcrsen) psng$a pas,rr

    satu jcnis hnrang atau jasa tertrntu.



                     Bagiarr Kcr;ltrpnt

  Penggnbungan, Pelctruran. tlan Pcngrunbilalihan


                               Pasal 28

(l) Pelaku usaha dilnrang rrrclakukan penggabungan fltau pelcburan
    badan usahR yafig dapat nrungakibatkan tcrjudinya praltt*k
    monopoli dan atuu pcrsaingan usaha titlak sehat.

(2) Pelaku usnha dilnrang rnelakukan l)Bnganrbilalihnx saharn
    perusahaan lain apatrila tindakan tcrscbut dapat nrerrgakibatknn

    terjadinya praktek nronopoli dan ateru persaingan usaha tidsk
    sehat.



                                                       (3) Ketentuan ."
                    t
                        !

                            ,#l
                             -19-
(3) Ketcntunn lebih lanjut mengcnai penggnbungan atau pctehurnn
    hsdan usaha yang dilarong sebagaimana dirnaksud nyat {l), dm
    ketrntuan mengenai pengarnbilnlihan sallnm pcruschaan
    sebaguimana dimaksud dalrrn ayat (2), diatur dalarn Psraturan

    Pcnrcrintaft.



                            Pssal 29

(l) Penggnbungan atnu pclcburan badan usaha, ntau pengambilalihan
    saham sebagaimnna dimaksutl dnlam Pasnl 2S yang bcrakibat
    nilai sset dan atsu nilai penjualnnnya melebihi jumlah tertentu,
    wajib diberitahukm kcpada Komisi, selanrbrt-lamhatnya 30 {tigr
    puluh) hari sejrk tanggal pcnggabungan, peleburan fltflu
    pengambilalihan tsrsebut.

(2) Ketentufir tentang peiletapan nilni aset dan atru nilai penjualan
    serta tata cflra prmberitahuan sehagairnana dirnaksud dnlam
    ayat (l), diatur dalam Feraturnn PEmcrintah.




                            BAB VI
  KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA

                    Bngiun Pertama

                             Status


                            Pasal 30

(l) Untuk mensnwe$i pelnksanaan Undang-undnng ini etib,entuk
    Idornisi Pengnwar Persaingan Usaha yang sela*jutnya disebut
    Komisi.


                                                      (2) Komisi ...
                    \1.



                     tsHFSiri\|N
             Rt" F5rJt Lll{NtJ(JNthl{\


                              ?0

(2) Knnrisi adalah $ilatu lenrbaga indelrcndcn y*rlg tcrlcpas dari
    pengarult dan kr:kuasaan Pcrncrintah serta pihak lairr.

(3) Komisi bcrtanggung jawnb kepada Presidcn.


                     Bagian Kechrn

                      Kcanggotaan


                          Pasal 3 I

(l) Komisi tcrdiri flta$ scorang K*tu;r nrcrangkap anggota, sesr&ng
    Wakil Ketua rnerangkirll rngguta. dnn sekurang-kurangnya ?
    (tujuh) urang flnggatrr.

(2) Anggota Honrisi cliangkat dan dibcrhentikan oleh Pr*sidrn atns
    psrse.tujunn Dewan Perwakilarr Rakyat.

(3) Masa jatratarr qnggotir Korrri.si adnlnh 5 {lima) rahun dan dapat
    diangkat kenrtrali untuk I (satu) kali nrasa jabatrn herikutnya.

(4) Apabiln karclra brrakhirnya nrasa jabatan akan terjadi
    kekosongan dalam keanggotaan Konrisi, rnaka masa jsbatan
    anggota dapat diperparrjang sarrrpai ;xng'angkatan anggota baru.


                          Pasal 32

Persyaratan keanggotasn Kotllisi adalnh :

a. wirrgfl ncgara Republik Indone.ria. lrcrusia *ckurang-kurilngnya
    30 {tig* puluh) tahun dan sctinggi-tingginya 60 (enrm puluh)
    tahun pada snal pengangkatan;

b. setia k*pada Pancasila riarr Uldarrg-Undang Dasar Ig45;
c. berirnan dan bertaqwa kcpada Tuhan Yang Maha Esn;
d. jujur, adil, dan berk*lakunn traik;

                                                      e       bertemput ...
                    ff}f"'RE 5lt1LN
               F+t. rruFlL-lK   rN$rlNr 5l11


                                1l

e. hcrtempat tinggal di wilay.rh n*gilra Republik Indonexia:
f. brrpengakman dalanr hidang usaha atau mernpuny:ri ;rerrgu{ahuan
    dan ku-ahlinn di bidang hukurn dan arau ekononrit
g. tidak pernah dipirlana:
h" tidak pernnh dinyatakan pnilit olch pengadilan; dan
i. tidak terafiliasi dengan suatu badan usalra.

                          Pasal 33

Kcanggotaan Konrisi berlre nti, karc*u :

t. meninggal duniu;
b. mcngurulurkan diri atas perntintaan scndiri;
c. bertr:rnpat tinggal di luar wilayah negara Republik Intloneria;
d. sakit jasmani atau ruhiuri tcrus rnenerus;
e. berakhirny& flnftsa jabatan keanggotann Konrisi; atau
f. diberhentikan.

                          Pasal 34

{l} Pembentukan Kornisi scrt* f;usunan urganisasi, tugas, dau
    fungsinya ditetapkan dcngarr Kcputussn Pr*riden.

(2) Untuk kelancaran pel*ksanaan tugas. Kornisi dibantu olsh
    sckretariaf.

(3) Kornisi dnpat rnemberrtuk kck:nrpok kcrja.

(4) Ketentuan nrengrrrui $uriunlrl organisasi. lugas, dan fungsi
    se   krcl.ariat dan kclurnprrk kur.ja diatur lchih lanjut dengrn
    kqputusan Komisi"



                                                            Bagian
                  $#
                    PFlr-.5rDEhl
             HE PUtfI-,K IhJD(.]NL5iA



                           2:

                    Bagian Ketiga

                          Tugas



                       Pnsal 35

Tugas Komisi rncliputi:

a. melakukan penilnian tcrlradap perjanjian yang dapat
    mengakibatkan terjarlinya praktck nronop*li dan atau persaingarr

    usaha tidak sehat sctragainrnna diatur dalaln Pasal 4 sarnpai
    dengan Pasal I6;

b. mslakuhan pcnilaian tcrhndap kcgiatan usahfi dnn atau tind*kan
    pelaku usaha y&ng dapnt rrrengakibatkan terjndinya praktek
    nranopoli dan atau pcrsairrgan usaha tidak sehal sebagaimitnn
    diatur dalnnr Far*l l? sanrpai dengan Pasal ?4;

c. mckkukan pnilaian tcrhaclap nda atau tidak adanyu pcnynlntrgunaan
    posisi donrinan yang rlapat nrengnkihatkan terjadinya praktek
    monopoli dan atau pers*irrgan u*aha tidak sehat sebagaimana diatur

    dalam Pasal 25 sarnpai clcngnn Pn.ral 381

d. mengarnbil tindakan scsuai d*rrgan wewenrrng Kornisi
    sebagairnana diatur dalurn Fasal 30:

a. mcmbe"rikan .snran dnn pc.rtirnbangnn tcrhadap kcbijakan
    Pernerinlah yang b*rkiltan dcrrgan praktck monopoli dan atau
    persaingan usaha tidak schat;
f. nlenyilsun pedonr*rt dan atau putllrkasi yang bcrkaita* derrgarr
    Undang-undang ini:

g. nrenrherikar l*lrorun secflra hcrkaln atas h*sil k*rja Koffiisi
    kepadn Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.



                                                            Bagian .."
                                  q

Bagian 3 dari 5

                     /1
                                  I'
                                  U.




                    FtrF$l{ri. hJ
             Rt" trUtill-lK 1f9D(}NI bli\



                           -21 -

                   Bagialr K*c'rrrpat

                          Wewcnang


                           Pasal 3(r

Wewenang Knnrisi nrcliputi ;

E. menerima lapnran dari lnasyarakat dan atau dari pelaku usahs
    tentang dugaan tcrjadirrya prnktek nronopoli dan atau persaingan

    usaha tidak sehat;

b. ntelakukan penelitian terrtung dugaitn ndanyn kegiatan usaha dm
    atau lindaka* pelaku usaha yarrg rlalrat rrrcngnkibalkan terjndinya
    praktek monopoli dan atau persaingan u$aha tidnk sehat;

c. melakuknn penyelidiktn dan atau pcmeriksaan tcrhadap kasus
    dugaan praktck mon*poli dan atnu persaingan usaht tidak sehnt
    yang ttilaporkan al*h nrnsyarakat atau *leh pelaku usaha atau
    yang ditcrrrukarr oleh Korrrisi sebagai hasil dari penelitiannya:

d. mcnyinrpulkan hasil penyelidih*n dnn ntau pemcriksaan tentang
    ada atau tidak adarrya praktek nlCIn*poli dan atau persaingan
    usaha tidak sehat;

e. mcmanggil pclaku usaha yang tliduga telah melakuknn
    pelanggaran terhadap kctentuan undarg-undnng ini ;

f, nrenranggil dan rrr*rrglradirkan saksi" saksi ahli, dan *etiap orang
    yans dianggap rnengctahui pclarrggaran tcrhadap kefenturn
    undang-undang ini;




                                                         g. nrenrinta,..
                          i::i'.
                     4
                                     t


                     i.




                     F}EE S        ,TN
              f-tI t"t.JHI_tK rND()Nf 5lA


                              ?4


B. meminta ti*ntuan pcnyitlik untuk menghadirkan pelaku usahs,
     saksi, riak*i ahli, atnu sctiap orans s*bagairnana dirrraksud huruf e
     tlan huruf f" yang tidirk hr;rseclia rncrnenuhi panggilnn Komisi;

h. m*ntinta kcterangalr tlari instnnsi Penrcrintah dnlanr kaitannya
     dengan pcnyelietikan dan iltelu pcntcriksaan terhadap pclaku usahn
     ynng nr*langgar ketentuan urilang-undang ini;

i.   mendapatkan, nsneliti, dan atau ntcnilai surat, dokunren, atau

     alat hukti lain guna pcnyelidikan dan atau perncriksaan;

j.   memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kcrugian di
     pihak pelaku usalra lain atau nrasyarakat;

k. nrenrtrcritahukan []utusan Konrisi kepada pelaku usaha yans
     didrrgn rnelnkrrkan prakt*.k rnnnopnli rlan Rfau prrc*ingan rrrrha
     tidah xchat;

l.   menjatuhkflr sank$i herupa tinrlakan adnrinistratif kcpatla pclaku
     usaha yang melangsar kctentuan Undang-undang ini.




                    Bagitn Kelinra
                         Penrhiayaan



                          Pasal 37

Eiayn untuk pcl*ksanaan tuglils Kr:rrriri dihehankan kepaela Anggaran
P*ndapatan dan Belarr.ia Nr:garn rlan atan suntber-sunrbcr lain yrng

dipcrbalehk*n oleh peraturtn ;rcrurrdarrg-undangan yang berlaku.




                                                             BAB VII ."
                      .. '":-l\r.\\

                  ,:iffitl
                    'l'7'-'r"




                     --Tir{---"

                    F,frt Srut        r',J

             t.rt lrrJBLlK tNDr)Nt" 5i A


                                25


                           BAB YTI
    TATA CARA PEHANGANAN PERKARA


                           Pa*al 38

(l) Setiap orang yang mengetahui tclah tcrjadi atau putut diduga
    telah terjadi pelanggaran terhadap Undang-undong ini dnpal
    melaporkan sscsra tertulis kepada Komisi dengnn keterangnn
    yflng jclas tentang telah terjadinya yxlanggarnn- dengan
    menycrtaknn identitas trxlnpor.

(?) Pihek yeng dirugikm sebagai akibat terjndinya pelanggaran
    terhadnp Undang-undang ini dapat melaporkan sscara tertulis
    keprdn Kornisi dengan keterangan yang lcngkap dan jelas tentang
    telnh terjadinya pelonggaran serta kerugian ymg ditiurbulkan,
    dcngan menycrtakan idcntitas pelapor.

(3) Identitns pclapor sebagaimana dimnksud dalam aynt (l) wajib
    dirahasisknn oleh Komisi.

(4) Tata cilra llcnyampaian laporan scbagaimana dinraksud dalam
    ayat (l) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Konriri-



                           Pasal 39

(I) Burdasarksn laporan sebagainrana dirnaksud dalam Fasrrl 38 ayat
    (1) dan ny6t (2), Komisi wajib nrclakukan perneriksnan
    pendahulunn, dn* dalnm wnktu selarnbnt-lanrbatnyn 30 {tigfl
    puluh) hsri $stelah menerirna laporan, Konrisi wajib mun*tnpkan
    pcrlu atau tidaknyr dilakukan pemeriksaan lanjutan.


                                                          (2) Dalam ..
                   ffib
                    FrHt strlrfit
             RI PUHL-IK INN{JNf, 9iA


                           76

(2) Dalam pemrriksaan lanjuten, Kornisi wajitr nrclakukan
    pemeriksaan terhadnp pelaku usaha yang dilnporkan.

(3) Knrni*i wajih menjaga kerahnsiaan infarnrasi yang diperoleh dnri
    pelahu usrha ynng dikategorikan acbagai rahasia perusuhaan.

(a) Apabila dipordang perlu Komisi dapat mendengrr ketcrangnn
    saksi, saksi nhli, dan atau pihnk lain.

(5) Dalam melukukan kegiatan sebagaimnna dimaksud dalam ayat (2)
    dan ayat (4), anggota Komisi dilengknpi dengan surat tugar.


                        Pasal 4O

(1) Komi*i dapat melakukan pemeriksaan terhudap pelaku usaha
    apabila ada dugaan terjadi pelanggaran Undang*undnng ini
    walaupun tflnpf, adanya laporrn.

(?) Pemeriksaan sehagoinrana dimaksud dalarn tynt (l) dilnksanaknn
    sesuai dcngan trta cara *ehagainrana diatur dalam Pasal 39.



                        Fasal 4l

(1) Pelaku usaha dan nt6u pihak lain ynng diperiksa wajih
    rnenyerahkan alat bukti yang diperlukan dalarn penyelidikan dnn

    atau pemeriksaan.

(2) Pclaku usaha dilarang rnenolnk diperiksa, nrenolak menrbsrihan
    inforrnasi yarg diperlukan dalanr penyelidikan dnn Risu
    pemeriks*an, f,tflu menghanrbet prose$ penyelidikan dan ntnu
    pemeriksaan.




                                                  (3) Pelanggaran.,.
                  ffiPRt^ ",tL-lf N
             tr{'pr11t.],_,,a rNi)()Nf 5iA


                         -2? -
(3) Pelanggarnn terhadnp ketentuan ayat (2). oleh Konrisi tliserahktn
    kepad* penyidik untuk dilakukan penyidikan s$$uni dengan
    ketentusn ynng berlaku.


                        Pasal 42

Alat-alnt bukti pemeriksaan Komisi berupn:

&. ketcrangan seksi,
b keterangan ahli,
c. ourat drn atru dokumen,
d. petunjuk,
e. kcterangan pclaku us*ha.
                        Pasal 43

{l) Komisi wnjib mcnyelesaikan pemeriks*an lanjur,an sclarnhat-
   lnmbatnya 60 {enarn puluh} hari sejnk dilakukqn pemeriksran
   Ianjntan sebagnimana dimaksud dalanr Pasal 39 aya{ (t).

(2) Bikmana diperlukan, jangkn waktu pemcriksaan lanjutan
   scbagaimana dimaksud dalam aynt (1) dapat dipcrpnnjnng paling
   Irma 30 (tiga puluh) hari.

(3) Kornisi wajib memutuskan telah terjadi atau tidnk tcrjadi
   pelanggaran terhadap undang-undang ini sclambat-lnmhatnya 30
   (tiga puluh) hari tcrhitung sejak selcsninya pemeriksaan larrjutan
   eebagaimona dimaksud dalam nyat (l) atau ayat (2).

(4) Putusan Kornisi aebagaimana dimaksud dakm eyal {3} harus
   dih*cakan dalam suatu sidang yang dinyatakan tcrhukn untuk
   umum clan regera dibcritahukan kepada pclaku ucaha,


                                                         Pasnl 44 .."
                     ffii.Hl 5,li[.N
               Qr t){JtJl-- l}( .P.t p#Nt ..it.a


                            -;E-

                           Pasal 44

(l) Dnlam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak pelaku usaha rnrnerinra
    penrberilrhuan putusan Konrisi sebagairnaua dinrnksud dalanr
    Prsnl 43 ayat (4), pelaku usahn wajib mekksanakan putu$en
    tersehut dsn mcnyarnpaikan laporan pelaksanaannya kcpada
    Komisi.

(2) Pelaku usaha dapat nrengajukan keberatan kepada pengadilan
    Negeri selambat*lambatnya I4 {empat belas) hari setelah
    menerima pemberitahufl n putu$arr lErscbut"

(3) Felaku usaha ynng tidek mengqiukrn kehernran dulam jnngka
    waktu scbagaimnna dimaksud dnlnm ayat (2) dianggap menerimu

    Futus*n Komisi,
(4) Annbila ketentuan sebasaimana dimsk*ud dal*rn synt (l\ dnn nyst
    (2) tidnk dijalankan oleh pelaku usaha, Koruisi menyerahkxn
   putusan tersebut kepada penyidik untuk dilakuhan penyidikan
    sesuai dengan ketentuan peratilran perundang-undnngan ya$g
   bedaku.

(5) Putusan Kornisi s*bagaimana dimaksud dalunr Posal 43 ayut (41
   merupnkan bukti pcrmulaan yang cukup bagi pnyidik untuk
   melakukan penyidikan.


                          Paeal 45

(l) Pengadiltn Negeri harus memeriksa kebcratar pctaku usaha
   sehagdrnnna dinraksud dalam Pasal 44 aynt (2), dalam waktil 14
   (enrpat helns) hari mjak diterimanya kebcratan terscbut"

(2) Pengadilan Negeri herus memheriknn putusan dal*m waktu 30
   (tiga puluh) hmi sejnk dimulainya pemeriksaan keberatan
   teruebut,

                                                        (3) Pihak .,   -
                   ffil
                   t.Ht ltr)f .N
             HI tsULiL"IK INTJO\L5 A


                          29

(3) Pihek yans keberattn turhadap putusan pengadilan Negeri
    uebagairnana dimaksud dalam ayat (2), dalam waktu 14 (empat

    belar) hari dapat mengnjukan kasasi kepada Mahknrnnh Agung
    Rcpublik Indonesia.

(4) rvlahknmnh Agung harus rnemberikan putusan dalam waktu 30
    (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi diterirna.


                       Pasal 46

(l) Apabila tidak terdapat keberatan, purusan Komisi sehagainrana
   dimnksud dalam Pasal 43 ayat (3) telah mcmpunyai kckuatan
   hukum yung tetap.

(2) Putusan Knmisi sebagaimana dimaksutl dalam ayat (l)
   dimintnkan penetapan eksekusi kepada Pengadilan N*geri.


                      BAB VIII
                      SANKSI

                   Bagian Pertama
              Tindahan Administrati f


                      Pasal 47

(l) Kornisi berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindaknn
   administratif terhadap pelaku usaha yang melanggsr ketentuan
   Undnng-undang ini.

(?) Tindaksn administrarif mbagaimana dimnksud dalam ayat {l)
   dapat hcrupn:
   &. p*netapan pembatalan pcrjanjian rclragairnana dinraksud
      dal*m Paoal 4 srmpai dengan Pasal 13, Pasal 15, dan patal
       16; dcn ntau

                                                       h. pcrintah ...
                       tJHLl,'L)L N
             ,?l f rt,lUt.llt NI*rr.)Ni^ 1:rzl


                              30

    b. perintah kepada pelaftu usaha untuk nrcnghentiknn intcgrari
       vertiknl sebngainrann dirnalcsud dalarn pasal 14; dsn atau
    c. perinrnh kepada pelaku usaha untuk menghentikrn kegintan
       yeng terbukti menimbulkan praktek nronopoli dan ntfiu
       mcnyebabkan persaingan usaha tielak sehat dnn atau
       mcrugikan masyarakat; dan atnu
    d. perintah kcpada peluku usaha untuk nrenghenr^ikan
       penyalahguna&n posisi donrinan; rlan atau

    e. penetapan pembatnlan ata$ penggabungan slau peleburan
       hadan usaha dan penganrbilalihan saham rebagainrana
       dimaksud dalam Pasal 28; dan atau

    f. penctapan pembayaran ganti rugi; clan atau
   g. pengena*n denda serendah-rendahnya Rp 1.000.CI00.000,0fr
       (satu milinr rupiatr) dan seringgi-tingginya Rp 2$.CIfi).0()0"flX),00

       (dua puluh lirnn miliar rupirh).



                     Bagian Kedur

                     Pidana Pokok


                         Pasnl 48

(l) Pelanggaran terhadnp ketentuan Pusnl 4, pnsal g saurpai dengan
    Fnsal 14, Pasal 15 uampai dengan parnl Ig, pasttl 25, pasal Z?,
   dun Pasal 28 diancsm pidana denda serendflh-rendahnyr
   Rp 25,000.000.000,CI0 (dua puluh lima rniliar rupiah) dan
    retinggi-tingginya Rp 100.000.000,000,00 (seratus nriliar
   rupiah), atau pidana kurungan pcngganti denda sslama-tarnanya 6
    (enam) bulan.


                                                       (2) Pclanggaran ...
                   r;ffii

                       -31

(2) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan pasnr g,
    Paurl 15, Pasd 20 sanrpai dengan Prsal 24, dan pasal 26
    undang'undang ini diancam pidnna denda serenduh-rendahnya
    Rp 5.000.000.000,00 ( lirna nriliar rupiah) dan uetinggi-ringginya
    Rp 25.00fi"000.000,00 (dua puluh lirna rniliar rupiah), ar*u
    pidana kurungan pengganti ds.nda sclama-lnmanya 5 {lirna} hulan,

(31 Felanggeran terhadap kete.rluen Pasnl 4l Unclang-undang ini
    rliancam pidann denda ser*ndah-rendahnya Rp I .000.000.000,t10
    (satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp 5.000.000.000,00
    (linra miliar rupiah), atau pidana kurungan pcnggnnti denda
    selama-lamanya 3 (tiga) bulan.



                   Bagian Ketiga
                 Pidana Tsmbahan


                      Pasal 49

Dengan menunjuk ketentuan Pasal l0 Kitab Undang-undung Hukum
Pidanan terhadap pidana scbagaimena diatur dslam Pasal 48 dapat

dijatuhkan pidana tambahan berupa:
a- pencuhutan izin usaha; atau
h. larangan kepada pelaku usnha yang telah lsrbulrti rnelakukan
   pelanggaran terhadap undrng-undang ini untuk rnenduduki
   jabatan direksi atnu komisaris sskurang-kurangnyn 2 (dua) tahun

    dan selarna*lamanya 5 (lima) tahun; atuu
(. penghentian kegiatan rtau tinrlaknn tcrtentu ysng rncnycbabkan
    timbulnya kerugian pada pihak lain.




                                                          BAB IX .""
                   ffie
                    PH''-;t{)i:Fl
             l<[ 0uLJL.$\ trri{1}tJNL fi,rr


                          -32

                         BAB IX
                KI]TENTUAN LAIN


                        Pasal 50

Yang diker;ualikan dari kctcnrurn unclang-undrng ini adalah:

B. pcrbuatan dan at*u pcrjanjian y;ulgi bertujuan melaksanakan
    peraturan peruudang-urrdanglur yang Lrerlaku; atau

b. perjanjian yang berkaitan tlcngan hak ntm kekayaan intelcktual
    scperti liscnsi, patc,r! lnerrk dagang, hak cipta, desain produk
    industri, rangkainn elektronik tcrpatru. dan ralrasia dagang, serta
    perjanii*n yang herknitan dcrrgarr waralabal atau
c. pcrjanjian pcn*(apan srandar tcknis produk barang dan atau jasa
    yang tidak nrcngckang dan atau rrrenghalangi persaingan; atau

d. perjnnjian dtlarn rangka keagenan yarrg isinya tidak nremuat
    ketsntuan untuk nrerrrasok kernlrari barang dan atau jasa dengan
    harga yang lebih rcniJah claripada harga yang telah diperjanjikan;

    atau

e. perjanjian kerja sflrrln pcneliriarr untuk peningkatan atau
    perbnikan standar hidup rrrasyarakat luiis; atflu

f" perjanjian internasiorral yang tchlr diratifikasi olch pcmerintah
    Reprrblik lndoncsia; atau
g. perjanjian dan atau perbuatan yang b*rtujuan untuk ek;por yrng
    tidak m*nggilnggu kebutuhan dan atau pasokan pasflr dalanr
    neg*ri; atau
h, pelnku usaha yctng tcrgolong dalnu usaha kecil; atnu
i. kegietan us*ha koperasi yflng secara khusus bcrtujuan untuk
    melayani anggofanya.


                                                           Pasal 5l
                  ffi
                    PHESIDI- N
             Rr t,utiLiK lt,l()()NE 5lr.


                        -33

                       Pusal .51

Mnnnpoli dan ata$ peru*s*an kcgiat;rn yanx hcrkaitan dengan
produksi dan atau pernflsaran barang dan atau jasa yang *rcnguasai
hajat hitlup oraog tranyak scrln c{rbflng-cabang produksi ynng pentirrg

bagi negtra diatur dcngan undang-unclang rlan diselenggarakan oleh
Badan usrha Milik Negara tran ata, tradan rtnu lcnrbaga ynng
dibentuk atau ditunjuk oleh perncrirrlah.


                        BAB X
            KETENTUAN FERALIHAN

                       Pasal 53

(t) $ejak bcrlakunya uudang*undrrrg ini, seffiua lleraturen
    peruudang-undrrngan yang rlrerr$atur atau berk*itan dengan
    praktek nronolxrli dan atau persaingan ussha dinyalaknn tetap
    hcrlaku sepanjang tidak bertenlangan atau bclunr diganti dengan
    yang bnru herdasarkan Urrdang-undang ini.

(2) Pelnku usalra yang tulah nrernbual perjanjian dan ntau nrplakukan

Bagian 4 dari 5

    kegiatan dan atau tindakan yilng ticlak sesuai dengan ketentuan
    undang-undarrg irri dihr.'ri waktu 6 (cnum) hulan sejak undang-

    undang ini diherlal(ukan unluk nrclakukan pcnyesuaian.



                        BAB XI
             KETENTUAN PENUTUP

                        Pasal 53

undang-undang ini nrulai berlaku terhitung I (satu) tahun sejak
tanggnl diuudangkan


                                                               Agar
                                            Ptt r ill]r't.r
                                    nrt,l,lI..ll{ tflt r{.rhlL Ltn


                                                 -14

                   Agar rctiap o,'ang rrengctarruirrya, rrrclrrcrintahkan pcngunerangan
                   Undang-undang ini denga, pcncnrpatannya darar, l.embaran Negara
                   Republik Indoncsia.



                                                                     Ilisairkan di.fnkarta
                                                                     patln tanglal S Mare{ 1$gg

                                                                     I,KI;SIDUN RITUNI.IH INI)ON[IiIA

                                                                                     ild
                                                                     trAcr TARUDOIN Jr.JSlJr HABr BII
I)i undrrngkau rli .fr karta
pada tanggal II Mar.ct II)Dg

M[:N'T[RI NICA RA .q[KRilTARIIi NI,(;A RA
           RIJI'TJ I} I,I K IN T)t)NHSIA


                       ttl
                       I


                  AH
                     .tANDJtrN(;
            AKIT



         I,};MIIARAN NX;ARA RIPTJBI,IK INIIT)rur:SIA l,AIIUN I f}99 NOMOR 33


Sirlintn scsuli rlerrgatr aslinya
         HtA't'lt^tltNr:'r
aI R['rAa l?irn ltcrrlurafi Rt
               -rrndnngnn I
                               '4,*,5.^

             V. Nahattanils

lr{
                               Rr
                                        ffi
                                      p',rf;:["]lil;] *u
                                                           =, ^

                                        PENJELASAN
                                             ATAS
                   UNDANG-UNDAhIG REPUBLIK INDONHSIA
                              NfiMOR 5 ]'AHUN 1999
                                          TENTANG
             LARANSAN PRAKTHK MONOPOLI DAN PERSATNOAN
                               USAHA TIDAK SEHAT


UMUM


Pembangun*n ekonomi patla Pembangunan Jangka Panjang Pertama tclah menghasilkan

banyak hemnjuan, nntara lain dengan meningkatnyn kescjalrtermn rakynt. Kemajuan
pembangunan yflng telnh dicapai di atas" didorong olch kcbijakan pembangunan di
trerbagai bidang, termasuk kebijnkan Jrmbangunan bidang ekonomi y*ng tsrtu{ng
dalarn Garis-Garis Bcsar H*luam Negura dan Rencana Pemtlnngun&n Lirnr Tnhunan,
serta berbagni kebijakan ekcn*mi lainnya.


Meskipun telah bnnyak kemaiuftn ynng dicapai selamu Pernbrngunnn Jangka Panjang
Perlama, yang ditunjukkan olch pcrtumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi rnasih bany*k
pula tantangan at*u per*oalnn, khususnya dnlarn pembangunnn ekonami yang belum
tcrpecahkan, sciring dengan adanya kecenderungaa gl*balisasi perekonomian ssrta
dinsmiks don perkembangan usaha $wa$ta sejrk awal tahun l$90-an.

Peluang-peluang usaha yang tercipta selarna tiga dasawar*a yang lalu d$lam
kenyataannya belum memhuat seluruh masyarakat marnpu dan dryat berpartisipnsi
dalam pembangunnn di bcrbagni sektor ekonomi. Perkembangnn usaha swasta s*lama
priode tersebut, disntu sisi diwarnai oleh berbagai bentuk kebijakan Pemerintah yang
kurang tepnt sehingga pasar m*njndi terdistorsi. Di sisi lain, perkemhangnn ucnha
swasta dalam kenyataannyn rebagian besar merupaknn perwujudan dcri knndisi
persaingan ueflha yang tidak sehat.


                                                                       Fenomcn*.".
                                             2




Fenomena di rtns telah herkemhang dan didukung oleh *danya hubungan yang terkait

antara pengambil keputusrn dengan para pelaku usaha. hetik secara langsung maupun

tidek langsung, sehingga lchih mcmpcrbunrk kr'arlran. penyelenggarean ekonomi
nasional kurang msngecu kepada amanat Pa.sal 33 l.Indlng-Undang Dasar Ig4S, serla
cenderung menunjukkan corak ynng $angat rnonopolistik.

Para pengusaha yang dekat dengan elit kekua.rnan nrcrulnpatkan kelrrudahan-k*mudahan

yang bcrlehihan sehingga berdanrpak kepatla kese njangan sosia[" Munculnya
konglomerasi dnn sekelornpok kccil pcrrgusnha kunt yang ticlak didukung ol*h semftngat
kcwirausnhasn scjati merupakan salah crru faktor yeng mengakibatkan hetah*nan
ekonomi menjadi $sftgn{ rapuh dan ridak mflmp* bcrsaing,

Memperhatikan situasi dan kondisi tcrselrut di atas, rn*nuntut kils untuk menr,*nflti
dan menata kcmbali kegiatnn usahn di Indorrr:sia. agar rlunia usaha dapat tumhuh sertr

berkemban8 sscara sehst drrn bcnnr, sehingga trrr'ipta iklirn pcrsaingan usah* yang
eehat, sertr terhindarnyt pemusittun kckuatan ekonorni pittla pcrorangan atau kelompok

tertentu, antara lain dalam bentuk praktck nronopoli dan persaingan usaha tidak *ehat
yang merugikan masyar*knt, yang bertentangan clengarr cita-cita keadilan s*rsint.


Oleh karena itu, pcrlu disurun Undnng-Unclang tcntang Larangan praktek Manr:poli
dan Pnrsaingan Us$a Tidak Sehat yang dinraksutlkarr untuk rnenegakkan aturan hukum

dan membcrikan perlindungsn yang sanra bagi sctiayr yrclaku usahn di dxlam upry{r
urttuk menciptakan percaingan usaha yang sr.hat.


Undang*undang ini menrhcrilcan jaminan kcpaslian hukuur uutuk lehih mendorgng

Ferc€F8tan pemhangunan ekononri dalanr upaya nreningkalkan kesejahteraan uruurn,
serta rebagai implementari dari oflmflngat clarr jiwa Unclang-Untlang Dasar 1945.



                                                                                    Agnr
                                     {ffi
                                        F'r"(L'rt[ir^hl
                               r-{i frtl;.!: lt( lrvi-)()NL,:il:r


                                                  -1




Agar implemcntasi undailg-undang ini scrta pcrntur.rn l)elaksfinanye dflpat herjalan
efektif sesuei asas dsn tuju*nnya, nraka perlu dihcntuk lionrisi pengawus Fersaingnn
Usrhn, yaitu lernbaga indcperdcn yang tcrtcp*s clari pengaruh penrerinkh rlnn pihalr
lain. yang berwenang melakukan 1xnsawflsan pcrsaingan u.rahn clan rnenjatuhkan
sanksi' Sanksi terwbut berupa tindakan atlnrinis{ratil. scdangkan sanksi pidana adalah
wewenang pengadilan.


Secarn umum, materi dnri Untlang-Undang Terrlang Larnngan praktek Monopoti dan
Persaingan Usnha Tidak Sehat ini mrngamlung 6 (enflrlr) hngian pengaturen yrng terdiri

dari :
l. perjanjian yrns dilarang;
2. kegiatan ynng dilarang;
3. posisi dominan;
4" Komisi Pengawas Persaingtn Usaha;
5. penegnkan hukum;
6. ketentuan lain-lain.

Undang-undang ini disusun berdasarknn Pancasilt dan L.tndlng-Undang Dasnr 1fl4j,
serta bcrasrukan kepadn denrokrasi ckonorni ilengan rncmperhatikan kpseimbarrgan
sntsrE kepentingan pelaku usaha dan kcpentingan rrnruru dengan tujuan untuk : mcnj*ga
kcpcntingan umum dan nrclinrJrrngi konsunren; rrrerrurrrhuhknrl iklim usahn yang
kondusif melalui terciptanya persaingarr usalru yang sehat. ilan rnenjanrin kepastin'
kesempatan berusaha yflng sat]ln bagi setiap orang: nrencegah praktek-praktck mouopCIli

dan atflu persaingan urnhn tidak selrat yang clitinrbulkan plaku *saha; sr;rla
menciptaknn efektivitas dan efisien*i tlalam kegintan usaira dalnrn rangka meninghatknn
efisiensi ekonomi nasional sehtgai salrh satu ullaya rncnirrgkntkan kercjahtersnn rakyat.


                                                                              PASAL
                                   /1




                             -t.


                                              Jl'



                                   l^ ri [^(;, r) F N
                        Hr ilUlJi.tn rNI.,r)NE \ir\

                                              4


PASAL DEMI PASAL


Pasal I

    Angkr I
          Cukup jelas

    Angka 2
          Cukup jelas

    Angka 3
          Cukup jelas

    Angka 4
          Cukup jclas

    Angka 5
          Cukup jelas

    Angka 6
          Cukup jelas

    Angka 7
          Cukup jelas

    Angka   I
          Cukup jelas

    Angka 9
          Cukup jelas

    Angke lO
          Cukup jelas

    Angka I I
          Cukup jelns



                                                        Angka I?
                                                     \

                                                             I
                                                         ,


                                  I Hl.t,,l)[        N
                         trl. Pr.tl'll ,K   l.{{ rr-,NI Slrr



                                                "5




    Angkn l2
           Cukup jolas

    Angka 13
           Cukup jelas

    Angka 14
           Cukup jelas

    Angka 15
           Cukup jelas

    Angkn 16
           Cukup jclas

    Angka l7
           Cukup jelas

    Angka l8
           Cukup jelas

    Angka I9
           Cukup jelas


Panal 2

    Cukup jelns


Fnsal 3

    Cukup jelas


Pasd 4
    Ayat (l)
          Cukup jelas

                                                                 Ayat (2) ...
                                    W iri"tI tr{{.11.n,
                              ftt PU,tL tK lt"lD(1l.Jt^ Si/-

                                                 6


    Aynt (2)
          Cukup jelas



Pasal 5

    Ayat (l)
          Cukup jelas
    Aysr (2,
          Cukup jelns


Pasal 6

    Cukup jelas



Pasal 7

    Cukup jelar


Pasal 8

    Cukup jela*


Pasal 9

    Perjanjian dapat bersifat vertikal atau horis.ontal, Pe rjanjian ini dilarang karena
    pela*u ussha mcniadnkan fllsu nlengurfingi lxrsaingan dengan cflra membagi
    wihyah passr atau alokasi pasar. Wilnyah purrllsarfln tlapat herarti wilnyrh negfira
    Rcpublik Indoneria etlflu bagian wilayalr rlsltara Republik Indnnesia misalnya
    kabupaten, provinsi, atau wilryah regional lainnya. Mernbagi wilayah pema$arafi
    atau alokasi pasar berarti mcrnbagi wilaynh untuk rncrrrpernleh ntau memusok
    barang, jasa, atau barang dan jasa, nrcnctapkarr rluri siapa saja dapat nrcmper*leh
    alau memflsok barang, ja$a, atau barang dan jnsa.


                                                                            Pnsal 10...
                                       rrt{r:iti)rrn
                               t.l[ ],lrLJl lK if.Jl:rr]Nt'51/

                                                 7



Pasal 10

    Ayat (l)
        Cukup jelas
    Ayat (2)
        Cukup jclas


Pasal I I

    Cukup jelas


Pasal 12

    Cukup jelas


Pasal 13

    Ayat (1)
        Cukup jelas

    "Ayrt (tr)
        Culcup jelas



Pasal 14

    Yang dimaksud dengan menguasai prcduksi srjtuttloh pruxluk yflrrg rennasuk dalam
     r&ngkfrian produfui attu yang lazim disehut intrg1ralii vcrtikal adalah penguasnan

    serangkainn prose$ proctuksi atas barang terterrtu rrrulai dnri hulu sanrpai hilir atau
    pro$e8 yang berlani*t atas suatu layanan jasa terlcntu oleh plaku usaha tsrtentu"
     Praklek integrmi vertikal nrcskipun dapnt nrrnghasilkarr barang tlan jara dungan
     harga murah, tetapi dapat meniurbulkan persaingan usaha tidak schat yang melrsak

     sendi-sendi perekonomian nrasvarukat, Praktrk scpurti ini dilarang sepanjang
     msnimbulkan peraaingan usahn tidak sehat dan atau rrrcrugikan masyarrkat.


                                                                              Pasal 15.
                                         ,ffi
                                            l;"Ji..Jtt)t..tj
                               I'1   [ tlU[tu li,r lf.l[]crl\L y)11

                                                     tt



Pasal 15

    Ayat (l)
       Yang tcrmasuk dalarn pcngertian menrasok adnlah rnrnyerliakan pasokan, baik
       bernng maupun jrsn, dalarn kegiatnn jual bu'li. sdwa m*nyew&, $ew& beli. dan
       sewil guna usaha (/ec.ring).

    Ayat (2)
       Cukup jnlas

    Ayat (3)
       Huruf a
               Cukup jelas

       Huruf b
               Cukup jclas


Pasal 16

    Cukup jelas



Pasal 17

    Ayat {1}
       Cukup jehs

    Ayat (2)
       Huruf a
               Cukup jelas

       Huruf b
               Yang dirnaksud dnngan petaku rt'suhct luin adarah pcluku usrrlru yurrg
               mempunyai kemampuan bcrsaing yant signifikan ddnm pfl$ar
               heraangkutan.



                                                                           Huruf c .,.
                                                         \




                                              t-Ht 5iriE-N
                                   l.?l-f:,tiIJl lK rNf]f.]Nr_ Sl a

                                                     I

       Huruf c
               Cukup jelas


Pasal I8

    Ayat (l)
       Cukup jelas

    Ayat (?)
       Cukup jelas



Pasal 19

    Huruf a
           Mennlak atau mcnghalangi pr:laku usalra {*rtt:ntu titlak boleh dilakukan d*ngan
           carf, yang tidak wajar alau ilengan alusarr non- ekononri, misalnya karcna
           perbedaan suku, ras. status xr:sial. tlarr lain_lain.

    Huruf b
           Cukup jelas

    Huruf c
           Cukup jelas

    Huruf d
           Cukup jclas


Pasal 20

    Cukup jclas

Paml ?l
    Ke*rangan dalum nwnetapknn bi*1tu pt*dr*si d*n biuvn lainnya                    adalah

    pelanggaran terhedap peraturan perundang-undangan ynng berlaku                   untuk

    memperoleh biaya faktnr-faktor produksi ytng lehih rcntlah dari seharusnyn


                                                                               Pmal 22 ..
                              f
                                       ffif.ril ir f)["N
                                  tl t+![]1-l'<. f']fr{.}f\[ 5tA

                                               -t0

Pasal 22

    Tender sdslah tawer&n mc.nllajukan hnrga urrtuk rrrcmborong sualu pekerjaan, untuk

    mengadaknn barang-bnrang, ntau untuk rnenycdinkan -iusa.



Pasal 23

    Cukup jelas


Paral 24

    Cuhup jehs


Pnsal 25

    Ayat (t)
       Huruf a
               Cukup jelas
       Huruf b
               Cukup jelau
       Huruf c
               Cukup jelas

    Ayat (?)
       lluruf a
               Cukup jelut

       Huruf b
               Cuhup jelas


Pasal 26

    Huruf a
           Cukup jclas




                                                                            Huruf b .
                                      ffip
                                        rrr{fgtDrN
                                 RT-PLJBLIK Ir{DONESIA

                                             - ll

    Huruf b
           Ferusahasn-pcrusah*an memiliki keterkaitan vang rrrl apabila perusahaan^
           perusahaan tersebut saling mentlukung atau berhuhungan langsung 4alam
           prosc$ produksi, pernssarfln. ntnu prorluhsi tian
                                                               lxruasaran.
    Huruf c
           Cukup jelas

Pasal 27

    Huruf a
           Cukup jelas
    Huruf b
           Cukup jelar

Pasal 28

    Ayat (l)
       Badan usahu adalah perunahaan atru bentuk usaha. traik yang berbentuk b*ilan

       hukum (mioalnyn per$eroar terbatas) maupurl hukan badan hukum, yans
       menjalankan suntu j*nis usahft yang trersi{:rt te'tuyr dan terus me,nerus dengan
       tujuan untuk memperoleh laba,
    Ayat (2)
       Cukup jelas

    Aynt (3)
       Cukup jelns


Pasal 29

    Aynt (l)
       Cukup jelas
    Ayat (2)
       Cukup jelas

                                                                             Pa*d 30 .."
                                          4,
                                     /

                                          b




                                     r}RrStnEN
                               RTI,TJI:ILIK INDONESIA

                                               - 13

Bagian 5 dari 5

Paral 30

    Ayat (l)
       Cukup jelas

    Ayar {?)
       Cukup jelas
    Ayat (3)
       Cukup jelas


Pasal 3l

    Ayat (l)
       Ketua dan Wakil Ketua Komisi dipilih dari dnn nlch Anggota Komisi.
    Ayat (2)
       Cukup Jelas
    Ayat (3)
       Cukup jelru

    Ayat (4)
       Ferpanjangfln masa keanggotaan Konrisi untuk rnenghindnri kekosongan tidak
       boleh lebih dari I (satu) tahun,


Pasal 32

    Huruf a
           Cukup jelas
    Huruf b
           Cukup jelm
    Huruf c
           Cukup jelas

    Huruf d
           Cukup jelas
                                                                            Huruf e .,.
                                     ffip
                                       i'qr".) t)r'N
                                RI trl]Hl lK tr[-tfiN!.5r   ^r




                                            - l3
   Huruf e
           Cukup jelas

   Huruf f
           Cukup jelas

   Huruf g
           Yang dimaksud dengan tidak pentah ilipidan* atlalah tidak pernah dipidana
           karenn melakuknn kejahatan hcrat fltilu karcna nrclakukan pelanggaran
           kesusilaan.

   Huruf h
           Cukup jelas
   Huruf i
           Yang dimaksud tidak tercrfiliusi dmgun suatu bmlsn usclrc ad*lah bahwa sejak
           yang bersangkutan nrenjadi anggora Kor,isi tidak rn*niadi :

           l. anggoh dewan komisaris atau tr)cnga\^ras. atau direksi suatu peru.+ahaen;
           2. nnggota pcnsurus atau badar pemcriksu suatu koperasi;
           3" pihak yang nlertrberikan layanan jasa k*p*da suatu perusahaan, $rperti
              konsultan. akunlan publik, dan penilai;
           4. pemilik saham mayoritas sualu lrcrusahirrn.

Fasnl 33

    Huruf a
           Cukup jelas
    Huruf b
           Cukup jela*
    Huruf c
           Cukup jelns

    Huruf d
           Dinyatakan dengan surat keterflngan doktcr yang lr*rwenang.


                                                                                Huruf e ...
                                              i ri ,,) [ f!
                                t^ r :'l-t{    I r.'. r,i).;1"{i-!r..

                                                         l4

    Huruf u
           Cukup jcla*
   Huruf f
           Diberhentikan, Enlflrs laln dikarenakan tidak lngi rn€menuhi peruyflratar
           keanggotaan Komiri sebagrimana tlirnaksud pasal 12.


Pasal 34

    Ayat (1)
       Cukup jelas
    Ayat (2)
       Yang dimaksud sclffetariil adalah unit organisasi untuk mendukung nt*u
       membantu pelaksanaan tugas Konriri.

    Ayat (3)
       Y*ng dimaksud kelompak k*rja adalah tim profesional yang dilunjuk olch
       Komiti untuk membarrtu;rclnksanann tugffB tertentu dalam waktu t*rtentu.
    Ayat (a)
       Cukup jelas


Pasal 35

    Huruf a
           Cukup jelas
    Huruf h
           Cukup jelar

    Huruf c
           Cukup jelas
    Huruf d
           Cukup jelar

    Huruf e
           Cukup jclas

                                                                           Huruf f .."
                                            ar   I', t 'I t.,
                              l-.   t\   t,.1,

                                                  .I 5

    Huruf f
           Cukup jelas
    Huruf g
           Cukup jelas


Pasal 36

    Hurtuf a
           Cukup jelas
    Huruf b
           Cukup jel*s
    Hunrf c
           Cukup Jelas

   Huruf d
           Cukup jelas

   Huruf e
           Cukup jelas
   Huruf f
           Cukup jelar

   Huruf g
           Yang dimnksud dengan penyidik adalah penyidik sebagaimana dimnksudkan
           dnlsm Undrng-undang Nomor I Tahun lggl.
   Huruf h
           Cukup jelas

   Huruf i
           Cukup jelas
   Huruf j
           Cukup jelas

   Huruf k
           Cukup jelo*

                                                                      Huruf   ...
                                                    1.




                                           I


                                        I'Hf.':.lL)t'N
                                R{" F}r.ttit. tK tr.,tD()Nt-5r A
                                               -16-

    Huruf I
            Cukup.iclas


Fasal 37

    Pada dasarn-Ya Negare bf,nanggung jawah tcrhadap opera.qional p*laksanaan ruga$

    Ktlrnisi rft:ngan ntcnrherikan clukungan dana melalui Anggaran Fencl*patal dur
    Belanja Negara. Namun. utengingat ruang lingkup dan cakupan rugas Kornisi yang
    demikian luas dan .'iailga( herugam, maka Komisi dapat menrperoleh 4ana dari
    suntber lain yang tidak hertentangan clcngan peraturrn perundang-undangap 3,ang
    herl$ku yarrg sifatnya tidak ntengiknt serta tidak akan nrcmpengaruhi kcrrranclirian
    Komisi.


Fasal 3ll
    Ayar ( 1l
        CUL-up jclas

    Ayat (2)
        Cukup.felas

    Ayat (J)
        Cukup i*las

    Ayat (4)
        Cukup.jclas


Pasal 39

    Ayat ( I)
        Cukup.ielas

     Ayat t2)
        Cukup jelas


                                                                             Ayat (3i ,,
                                         ,            I
                                   I
                                                      ,t*'l,q
                                  1,,
                                  t1
                                                      4:r

                                             ).w,.

                                        I .,r ,, l:1.t.;
                                                 a ,. ..
                                              - t"l

    Ayat (3)
       Cukup jelas
    Ayat (4)
       Cukup jelas
    Ayat (5)
       Cukup jclas


Pasel 40

    Aynt (t)
       Cukup jelns
    Ayat {2}
       Cukup jelas


Pasal 4l

    Ayat (l)
       Cukup jclas
    Ayrt (2)
       Cukup jelae

    Ayat (3)
       Yang direrahknn oleh Komisi kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan tidak

       hanya peltuatan atau tindak pidana rebrgairnana dimaksud uyat (?), tctrpi jugr

       tcrmrsuk pokok perkarn yang sedang diselidiki dan diperiksn oleh Komisi.


Pasal 42

    Huruf a
           Cukup jelas
    Huruf b
           Cukup jclas

    Huruf c
           Cukup jelas
                                                                          Huruf d .
                                                             I




                                       tr$
                                                                 rt
                                                             :,
                                                             /,/



                                       t .-l     l. I ?i
                              t; i t   )   .r"   lrrl\,i.;            <.:;,,i

                                               "18

    Huruf d
           Cukup jelas
    Huruf e
           Cukup jelas

Pasal 43

    Ayat (l)
       Cukup jelas
    Ayat (2)
       Cukup jelas
    Aynt (3)
       Pengambilan keputusan Kanrisi sehagaimana dimaksud ayat (3) dilakukan dalcm

       suntu ridang Majelis yang bernnggotakan sekuraug-kur&ngnya 3 (tiga) orang
       anggota Komisi.

    Ayat (4)
       Yrng dimrksud diberitahukan adalah penynmpsian petikan putuean Komisi
       kepadr pelnku usrhn.

Pasal 44

    Ayat (l)
       30 (tign puluh) hari dihitung scjak diterinranya perikan purusan Komisi oleh
       peleku usaha ntau kurua hukumnya.

    Ayat (2)
       Cukup jclne
    Ayat (3)
       Cukup Jelas
    Ayat (4)
       Cukup jclas

    Ayat (5)
       Cukup jelas
                                                                                Pasnl 45 ...
                                            11!it- SlLrLN
                                 HI f.rr rf Jr-th,l.JDoNli   Siri


                                                   l9-

Pasal 45

    Ayat (l)
       Cukup jelas
    Ayat (2)
       Cukup jelas
    Ayat (3)
       Cukup Jelas
    Ayat (4)
       Cukup jelas


Fasal 46

    Ayat (l)
       Cukup jelas
    Ayat (2)
       Cukup jelas



Pn*cl47
    Ayat (l)
       Cukup jelas

    Ayat (2)
       Huruf a
               Cukup jelas
       Huruf b
               Penghenttan integrilii verti*al*ntflra lain tiilnksanakan dengan penrhatalan
               perjanjian, pcngalihan u*traginn pcnrsahaarr kcparla pelaku usahn Inin, atau
               perubahan trentuk rrngkaian lrrotluksi nya       .




                                                                                Huruf c ...
                                        4




                                        PRT'5IDEN
                                 RTFUBLIK
                                              'NDONI9IA
                                               30


       Huruf c
               Yang dip*rintalrkrn untuk rJih*ntikan adalah kegiatan atau tindakilft tertentu

              dan hukan kcgiatan usaha pelaku usaha sccarfl krs*ruruhan.

       Huruf d
               Cukup jelas
       Huruf e
               Cukup jelas

       Huruf f
               Ganti rugi diherikan kcpada peraku usaha dan kcpada pihak lain yang
               dirugikan.
       Huruf g
               Cukup jelas


Pasal 48

    Ayat (l)
       Cukup jelas
    Ayat (2)
       Cukup jelas

    Ayrt (3)
       Cukup jelas


Pasal 49

    Huruf e
           Cukup jelas
    Huruf b
           Cukup jslas

    Huruf c
           Cukup jelas
                                                                                 Pasal 50
                                        PFtfirt(.)!"N
                                 REPUBLII{ INDONL5IA

                                             ^21

Pasal 50

    Huruf a
           Cukup jclas

    Huruf b
           Cukup jelas
    Huruf c
           Cukup jelas
    Huruf d
           Cukup jelns

    Huruf e
           Cukup jelns
    Huruf f
           Cukup jelar
    Huruf g
           Cukup jelas
    Huruf h
           Pelalu utaha yang rcryclong alulaur uralm *r,r:i/ adalah tebagaimana dimaksud
           Undang-urdang Nonror g Tahun lgg5 tcntftng Usaha Kccil.
    Huruf i
           Yang dimaksud dcngan melay*ti attggt",{ail\,$ adalah memberi pelayanan
           hanya kepadn anggotanya dan truknn kcparla nraoyarakat umum untuk
           pengadaan kehutuhan pokok. kchutuhan sarana pruluksi termasuk kredit dan

           bahan baku, s$rta peltyanan untuk lneruasarkan rlan mendistribirsikan hasil
           produksi mggota yang (ida,k mengnkibatkan terjndinya praktck monopoli dan
           atau persaingan urnha tidak sehat.



Pasal 5l

    Cukup jelas

                                                                            Pasal 52. ...
                            L.Hr 5lL)t.N
                     t'{t. FUtrLlK   IND0N[: 5iA


                                     22




Pasal 52
    Ayat (t)
       Cukup jelas
    Ayat {2\

       Cukup jelas


Pasnl 53

    Cukup jelas




  TAMBAHAN LEMBARAN NECARA REPUBLIK INDONESIA NilMOR, 3ItI?

WhatsApp ↗